Spiritual Personal Branding: Integrasi Nilai Transenden Dalam Konstruksi Identitas Di Era Digital
Keywords:
spiritual personal branding, autentisitas, identitas digital, etika komunikasi, manajemen impresi, nilai transendenAbstract
Perkembangan pesat teknologi digital telah mentransformasi lanskap interaksi sosial dan konstruksi identitas. Dalam ekosistem yang kompetitif ini, personal branding telah berevolusi dari sekadar alat manajemen reputasi menjadi imperatif strategis untuk membedakan diri, membangun kredibilitas, dan menciptakan nilai. Namun, dominansi logika instrumental dan hasrat akan validasi eksternal seringkali mengorbankan keaslian (authenticity) dan makna yang lebih dalam (Khedher, 2014; Pooley, 2010). Sebagai respons terhadap kondisi ini, artikel ini mengusulkan dan mengkaji konsep Spiritual Personal Branding (SPB)—sebuah paradigma yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan transenden ke dalam proses strategis pembentukan citra diri. Artikel ini menggunakan metodologi kajian pustaka sistematis dan analisis filosofis. Pembahasan dimulai dengan menelusuri genealogi konsep personal branding dan krisis autentisitasnya, kemudian merumuskan definisi operasional SPB beserta landasan filosofis-teologisnya. Selanjutnya, diuraikan karakteristik inti, model dimensi internal-eksternal, serta implementasi SPB dalam ranah profesional, bisnis, dakwah, dan media digital. Artikel ini juga mengkaji secara kritis tantangan yang muncul dari tekanan ekosistem digital dan potensi kemunafikan, sekaligus memetakan peluang pengembangannya seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan etika. Simpulan menegaskan bahwa SPB bukan sekadar strategi komunikasi, melainkan sebuah praktik refleksif dan etis yang menawarkan keberlanjutan dan dampak sosial yang otentik di tengah kebisingan ruang digital kontemporer.


Another indexing>>